Hari itu ketika si nana bergegas ke tanah orang
berkelana mengejar cerah memperluas wawasan
Dalam Jiwa terpendam akan sinar indah tuk masa depan
Si nana menatap wajah-wajah yang lama dia kenal
Seakan tak tega melepas sang putra merana di tanah seberang
Tetesan air mata mengalir
Ya, tiba saatnya si nana tak menatap dalam waktu yang lama mereka yang telah lama dia dia membagi kasih.
Dari arah sana si ayah melangkah
Mendekat pada si nana seraya berkata,
“Dalam cobaan yang menghalang, nana pait-pait nai!
Dalam kesedihan dan kesepihan, nana, neka gelang retang!
Dalam kegagalan, nana, neka putus asa!
Dalam keberhasilan, nana, neka tuku pucu!
Dalam segala perkara, nana, condo le mori mese!
Dari jalan raya si konjak berteriak keras “Ngger awo?”
Anggukan kepala tanpa kata, merasa saat telah datang tuk mengembara
Langkah si nana pelan dan agak berat
Pada tanah tersayang ia menginjak kaki yang terakhir
Dari banyak arah dia mendengar ucapan selamat jalan
Seraut harapan, “nana, dia dia lako”
Dari bemo “kasih sayang” dia melambai tangan
Pada sang ayah, ibunda, adik, kakak, nenek, kakek, om, tante, teman sejawat, pada semua yang di tanah ini bersandar
Ya, akan teringak jelas oleh si nana bahwa di tanah asal tak ada orang yang tak dikenal semua bersaudara, semua baku selamat
“Goloworok” di puncak bukit terlentang
Kampung tersayang pada si nana yang mengembara
Tanah seribu senyum dan wajah yang sangat ramah
Kopi panas dan tete laka, teko kolang dan daeng tapa, latung cero dan muku bopok,
Mbako kasar dan Gudang Garam, Ikang kencara dan Nuru acu,
Saung lomak dan saung ndaeng, rebok dan srabe .....
Ahhhhh banyak rasa, di tanah ini si nana merasa senang
Goloworok, putramu berangkat ke lembah tak dikenal
Membawa senyummu pada sejuta jiwa yang mendamba kasih sayang
Satu saat nanti akan kembali mengulas cerita indah dari tanah sana
Tuk sementara doakan si Nana yang ada di tanah seberang