Jumat, 11 Juli 2014

SI NANA YANG BERANGKAT DARI TANAH TERSAYANG


Hari itu ketika si nana bergegas ke tanah orang
berkelana mengejar cerah memperluas wawasan
mengadu nasib, mengais kasih
Dalam Jiwa terpendam akan sinar indah tuk masa depan

Si nana menatap wajah-wajah yang lama dia kenal
Seakan tak tega melepas sang putra merana di tanah seberang
Tetesan air mata mengalir
Ya, tiba saatnya si nana tak menatap dalam waktu yang lama mereka yang telah lama dia dia membagi kasih.

Dari arah sana si ayah melangkah 
Mendekat pada si nana seraya berkata,
“Dalam cobaan yang menghalang, nana pait-pait nai!
Dalam kesedihan dan kesepihan, nana, neka gelang retang! 
Dalam kegagalan, nana, neka putus asa! 
Dalam keberhasilan, nana, neka tuku pucu! 
Dalam segala perkara, nana, condo le mori mese! 

Dari jalan raya si konjak berteriak keras “Ngger awo?” 
Anggukan kepala tanpa kata, merasa saat telah datang tuk mengembara 
Langkah si nana pelan dan agak berat 
Pada tanah tersayang ia menginjak kaki yang terakhir

Dari banyak arah dia mendengar ucapan selamat jalan 
Seraut harapan, “nana, dia dia lako” 
Dari bemo “kasih sayang” dia melambai tangan 
Pada sang ayah, ibunda, adik, kakak, nenek, kakek, om, tante, teman sejawat, pada semua yang di tanah ini bersandar 
Ya, akan teringak jelas oleh si nana bahwa di tanah asal tak ada orang yang tak dikenal semua bersaudara, semua baku selamat 

 “Goloworok” di puncak bukit terlentang 
Kampung tersayang pada si nana yang mengembara 
Tanah seribu senyum dan wajah yang sangat ramah 
Kopi panas dan tete laka, teko kolang dan daeng tapa, latung cero dan muku bopok, 
Mbako kasar dan Gudang Garam, Ikang kencara dan Nuru acu,
Saung lomak dan saung ndaeng, rebok dan srabe .....
Ahhhhh banyak rasa, di tanah ini si nana merasa senang 

Goloworok, putramu berangkat ke lembah tak dikenal 
Membawa senyummu pada sejuta jiwa yang mendamba kasih sayang 
Satu saat nanti akan kembali mengulas cerita indah dari tanah sana
Tuk sementara doakan si Nana yang ada di tanah seberang

AYAH

By: Marselina Saina (Serlin)



Ayahku ... oh ...ayahku
Tahun 2000 kau meninggalkanku
Dan kutak tahu dipelihara oleh ayah

Ayahku ... oh ... ayahku
Kami mencarimu ke sana kemari
Seperti ayam kehilangan induknya

Ayahku ... oh ... ayahku
Betapa sedihnya hatiku ini
Merindukan adanya seorang ayah

Ayahku ... oh ...ayahku
Kuingin kau hadir dalam mimpiku dan bersama Yesus



SEKAMI GOLOWOROK "UNJUK GIGI" DI KOTA RUTENG

Anak-anak SEKAMI GOLOWOROK ikut berpartisipasi dalam kegiatan SEKAMI KEUSKUPAN RUTENG untuk memperingati Hari Anak Misioner Sedunia di Kota Ruteng pada tanggal 9 Februari 2014




Dalam rangka memperingati hari anak Misioner Sedunia, Komisi Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Ruteng yang diketuai Sr. Gabriela, CB telah mengorganisir kegiatan anak-anak SEKAMI se-keuskupan Ruteng yang diselenggarakan di gedung MCC pada tanggal 9 Februari 2014.


Ada sekitar 1500 anak-anak SEKAMI dari semua paroki di Keuskupan Ruteng yang hadir dalam kegiatan ini. Mereka datang dengan pakaian seragamnya masing-masing. Setiap paroki mempunyai yell-yellnya yang khas.




Kegiatan ini dimulai dengan perayaan misa yang dipimpin oleh Romo Alfons Segar, Pr, Vikjen Keuskupan Ruteng. Langsung setelah misa, anak-anak disuguhkan oleh rangkaian acara yang dipersembahkan oleh grup animasi dan beberapa grup SEKAMI dari beberapa paroki di luar kota Ruteng. Dari beberapa grup yang tampil, ada beberapa yang sudah pernah tampil mewakili SEKAMI Keuskupan Ruteng di Bali beberapa tahun yang lalu.



Sekami Goloworok tidak kalah saing.....

SEKAMI Goloworok untuk pertama kali mengikuti kegiatan keuskupan ini. Anak-anak Goloworok menyambut kesempatan ini dengan penuh semangat. Dari Goloworok hanya diijinkan untuk hadir 20 orang. Mereka tidak hanya sekedar hadir dalam kegiatan ini tetapi juga diberi kesempatan untuk mengisi satu acara. Mereka sepakat untuk membawakan dance di depan sekitar 1500 orang anak dari berbagai paroki di Keuskupan Ruteng. 




Anak-anak Goloworok tidak kalah saing. Meskipun grup-grup sebelumnya tampil mengesankan, itu tidak mengurangi semangat mereka untuk menunjukkan kebolehan mereka. Justru sebaliknya, mereka menjadi lebih berani. Mereka tampil dengan baik. Banyak yang ikut bergoyang bersama mereka.Tepukan tangan meriah mengiringi langkah mereka dari panggung.

Dan setelah semuanya selesai, merekapun mendapat kesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat di kota Ruteng....Inilah foto-foto kenangan tanggal 9 Februari.


Di depan Katedral Ruteng.


Di depan Kantor Bupati Manggarai




KRISTUS LAHIR, KITA BERGEMBIRA!!!!

Umat Goloworok merayakan Natal Kedua tanggal 26 Desember 2013 di Kepela Santa Maria Ratu Damai. Koor para frater Scalabrinian juga turut memeriahkan pesta natal ini. Anak-anak SEKAMI Goloworok membuat sebuah kejutan dengan membawa beberapa acara tanpa sepengetahuan orangtua-orangtuanya.






Frater-frater Scalabrinian menyumbangkan koor untuk memeriahkan pesta natal di Goloworok.








Misa dipimpin oleh P. Yance, Cs dengan konselebran P. Boy (Imam Scalabrinian dari Filipina) dan Diakon Armin (sudah ditahbiskan menjadi Imam bulan mei yang lalu)




Setelah Perayaan Ekaristi, anak-anak SEKAMI Goloworok menyumbangkan beberapa mata acara. Anak-anak dari setiap Kelompok Umat Basis (KUB) berlomba-lomba untuk menunjukkan kebolehannya. Betul-betul sebuah kelahiran; kelahiran semangat baru dari anak-anak yang turut menggembirakan kelahiran Kristus.

Yang paling depan (baju merah) bukan beragama Katolik. Setiap kali ada kegiatan SEKAMI dia turut berpartisipasi.







MELATIH ANAK-ANAK UNTUK MENCINTAI ALAM



Kegiatan tanam pohon diadakan pada tanggal 22 Desember 2013 di Kampung Goloworok, Desa Goloworok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

LATAR BELAKANG
Pohon memberikan banyak manfaat untuk kehidupan manusia. Pohon, disamping untuk tujuan penghijauan, bisa membantu untuk meningkatkan debit air, menahan longsor, menjaga iklim, dan juga untuk kebutuhan manusia akan kayu bakar. Perambahan hutan tentu saja berakibat negatif pada alam dan manusia itu sendiri.  
Indonesia memiliki luas hutan sekitar 142 juta ha. Tidak selamanya luas hutan tropis ini dilindungi. Perambahan hutan terjadi di mana-mana di Indonesia. Ini telah mempangaruhi kondisi alam dan kerapkali memberikan akibat fatal akan keselamatan manusia.

     Goloworok adalah sebuah kampung kecil yang terletak di sebelah barat Kabupaten Manggarai. Dulunya kampung ini dikelilingi hutan lebat. Karena pertumbuhan penduduk semakin meningkat diikuti dengan kebutuhan ladang yang besar pula, sebagian hutan yang dulunya rimbun kini dijadikan lahan pertanian. Tentunya kenyataan ini membawa dampak negatif bagi alam itu sendiri dan juga masyarakat sekitar.

UPAYA PEMULIHAN HUTAN



Kami dari Kongregasi Scalabrinian bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Kabupaten Manggarai telah berupaya untuk memulihkan hutan dengan menanam pohon. Dinas Kehutanan kabupaten Manggarai telah menyumbangkan 265 bibit kayu untuk ditanam di Kampung Goloworok. Meskipun dalam jumlah yang relatif sedikit, tetapi ini merupakan langkah awal yang ditempuh untuk memulihkan kembali penghijauan di kampung ini.


Kami telah melibatkan anak-anak dalam penanaman pohon ini. Ada sekitar 90 anak yang ikut bergabung. Mereka adalah murid-murid SMP, SD dan bahkan yang belum mulai sekolah. Kesadaran cinta lingkungan harus dipupuk sejak dini. Ini telah menjadi alasan mengapa kami memilih anak-anak untuk program ini. Diharapkan dengan melatih mereka untuk menanam pohon, kita menciptakan sebuah generasi yang peduli pada alam dan berusaha untuk selalu melindungi alam yang semakin hari semakin dihancurkan oleh ulah manusia itu sendiri.

Lokasi yang dipilih adalah lahan sekitar Kepela Maria Ratu Damai Goloworok. Mengingat waktu penanaman pohon ini adalah beberapa hari sebelum Pesta Natal, kegiatan tanam pohon ini diharapkan bisa memberikan arti baru bagi anak-anak. Pesta kelahiran Kristus bisa menjadi pesta kelahiran kepedulian alam. Kalau saja anak-anak mencintai Sang Juruselamat yang datang, mereka mestinya juga mencintai alam yang diciptakan-Nya. “Pohon Natal” menjadi nama yang terbaik untuk program ini. Mungkin dengan predikat ini anak-anak akan tetap berusaha supaya menjaga pohon natalnya agar tetap tumbuh.

Kami bersyukur sekali karena dalam kegiatan ini beberapa orang tua juga melibatkan diri. Mereka mengajarkan anak-anaknya untuk menanam pohon. Keterlibatan mereka telah membantu kami untuk melakukan penanaman yang benar.

KESIMPULAN
Kerusakan alam telah menjadi fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. Alam yang telah memberikan banyak manfaat kepada manusia telah dinodai oleh manusia itu sendiri. Penyesalan atas penebangan pohon tidaklah cukup. Harus ada upaya untuk memulihkannya. Kegiatan Tanam “Pohon Natal” di Kampung Goloworok adalah salah satu upaya untuk memulihkan alam ini. Walaupun dilakukan dalam skala kecil tetapi ini adalah langkah awal. Semoga nanti tetap ada upaya yang sama agar alam Goloworok dipulihkan kembali.



Terima kasih kami sampaikan untuk Dinas Kehutanan yang telah rela menyumbangkan bibit pohon untuk kampung ini. Kontribusi ini sangat berharga sekali bagi kami. Kami harap ke depannya masih bisa menyumbangkan bibit-bibit pohon untuk kami.